Text
Bukan Salah Hujan
Novel ini mengisahkan tentang banyak rasa. Tentang rasa terpuruk, perjuangan, kepercayaan, cinta dan keluarga. Lewat Nadi, Pak Tua juga Yoga, Randu belajar banyak hal.
Nadi atau nama lengkapnya Nadila Adara Ibrahim memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta setelah berkuliah dan bekerja di Ibukota. Ia menerima pekerjaan sebagai editor di sebuah penerbitan.
Meskipun tidak tinggal di rumah setidaknya ia akan lebih dekat mengunjungi Pak Tua. Lelaki tua yang membesarkannya.
Di sebelah kantor Nadi ada sebuah kios yang menjual hotdog. Kios itu dikelola oleh pasangan kekasih yaitu Randu dan Rindu.
Kios itu selalu ramai karena hotdog yang dijual berbeda dari yang lain, rasanya juga sangat enak. Sama seperti pelanggan lainnya Nadila jatuh cinta pada makanan itu saat gigitan pertamanya.
Namun, tiba-tiba semuanya berubah. Kios tiba-tiba tutup. Baik Randu, Rindu maupun Yoga, yang membantu melayani pembeli di kios itu benar-benar menghilang.
Nadi seolah kehilangan nyawanya, tidak ada lagi hotdog terenak yang pernah ia makan, tidak ada lagi kios yang dianggap kantor keduanya.
Setelah sekian lamanya, Nadi kembali bertemu dengan Randu. Laki-laki itu berubah, tidak seperti Randu yang dulu.
“Kehilangan selalu bisa memberi dua hal, jika tidak mengajarimu menjadi lebih baik, maka kau akan terus terpuruk” (halaman 132).
Padahal tidak semua yang terjadi saat hujan turun adalah salah hujan. Ada beberapa hal yang terjadi saat hujan turun sebenarnya murni kesalahan manusia itu sendiri.
Namun, terkadang kita memiliki menjadikan hujan sebagai alasan untuk sebagai pemakluman. Setidaknya itu yang Rindu pikirkan.
Dulu, sebelum sebuah kejadian mengambil salah satu hal yang paling berharga dalam hidupnya dan itu terjadi karena hujan menurutnya.
Berhasilkah Nadi mengembalikan Randu yang dulu? Saat jiwanya mulai patah dan menyalahkan hujan atas kepergian kekasihnya Rindu? Yuk, baca novel ini keren banget pokoknya.
| 02201 | 813 Umm b | My Library (800) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain